Friday, December 4, 2015

Prinsip Hidup Masyarakat Adat Lampung

Falsafah Hidup Orang (Ulun) Lampung
Falsafah hidup Ulun Lampung termaktub dalam Kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:
  1. Pill-Pusanggiri, malu melakukan pekerjaan hina menurut agama dan memiliki harga diri.
  2. Juluk-Adok, mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya.
  3. Nemui-Nyimah, saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu.
  4. Nengah-Nyampur, aktif dalam pergaulan masyarakat dan tidak individualistis.
  5. Sakai-Sambaian, gotong royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya.


Sujadi, Firman. 2012. Lampung: Sai Bumi Ruwai Jurai. Penerbit Cita Insan Madani: Jakarta

Memahami Sejarah Awal Kain Songket

Hampir seluruh daerah di Sumatera, dari Aceh sampai Lampung, memiliki tenun songket. Ada songket Aceh, songket Minang, songket Jambi, songket Palembang, dan songket Lampung. Nah, dari daerah mana songket yang dipunyai di rumah?

Dari manapun songket yang dikoleksi di rumah, kita patut bangga memilikinya. Karena selain cantik, songket yang dibuat dengan proses unik, memiliki makna filosofis yang dalam sehingga bernilai seni tinggi . Makna tersebut tercermin dari motif-motif atau ragam hias yang terdapat di kainnya.

Tapi tahukah, dari mana asal songket? “Songket berasal dari India,” ungkap relawan kain Sativa Sutan Aswar atau akrab disapa Atitje, dalam talkshow yang digelar Komunitas Cinta Berkain di Jakarta, Rabu (7/10). (Baca juga: koleksi songket Lampung terbaru)

Bagimana songket akhirnya bisa sampai ke Indonesia dan menjadi tradisi budaya Indonesa? “Ini berawal dari hubungan dagang antara Cina dengan kerajaan di Jambi pada abad ke-6,” tutur Atitje yang melakukan pembinaan pada perajin songket di Jambi dengan uang dari kantongnya sendiri.
Dari Jambi, kapal-kapal Cina terus berlayar ke India. Balik dari India, kapal singgah lagi ke Jambi sambil membawa kain songket dan ditukar dengan rempah-rempah dari Sumatera. “Berikutnya, orang Sumatera membuat sendiri kain songketnya dengan benang emas dan sutera yang dibawa oleh pedagang dari Cina,” tutur Atitje.

Kain songket Indonesia tentunya berbeda motif dengan India. Bahkan antar daerah di Sumatera hingga per kabupaten, berbeda motifnya. “Perbedaan itu karena adanya geografi yang berbeda antarsatu daerah dengan daerah lainnya. Geografi juga membuat adanya perbedaan budaya, dan itu tercermin pada motif-motif kain songket yang dibuat atau diambil dari ayat-ayat kehidupan,” jelas peraih gelar doktor dengan tesis tentang evolusi industri tekstil abad ke-16. 

Sumber:

http://gulalives.com/

Thursday, December 3, 2015

Grosir Kerajinan Kaligrafi Tapis Termurah

- Ukuran panjang 100 cm dan lebar 60 cm
- Khusus untuk hiasan dinding
- Motif disulam tangan, handmade, bukan bordiran
- 90% kain tenun dihias sulaman benang emas
- Harga Rp 750.000,-

Untuk pemesanan, dengan menghubungi 085741887228

Baca juga: koleksi Rumah Tapis Lampung


Pusat Kerajinan Songket Kapal Naga


Songket Lampung atau yang dikenal dengan kain tenun tapis, merupakan kerajinan tangan khas masyarakat Lampung.

Motif kain tapis dirangkai dari benang emas pelintir yang dibuat dengan proses sulam tangan.

Motif kapal sendiri memiliki makna yang menggambarkan kejayaan maritim nusantara pada tempo dulu. (Baca juga: koleksi Rumah Tapis Lampung)

- Ukuran panjang = 100 cm dan lebar = 60 cm
- Motif asli sulam tangan dari benang emas
- Khusus untuk hiasan dinding

- Pemesanan dengan menghubungi 085741887228
- Harga Rp 800.000

Friday, February 6, 2015

Meningkatkan Motivasi

Iman adalah motor penggerak utama yang melejitkan himmah (keinginan). Dialah sebab pertama yang meneguhkan tekad, memantapkan niat, mengasah keberanian, dan menorobos semua tantangan. Iman ini pulalah yang menjadikan segala urusan besar menjadi kecil walaupun tidak bermaksud meremehkannya.
Sejarah umat Islam membuktikan itu semua. Siapa yang bisa membayangkan Persia dan Romawi bisa tunduk dibawah telapak kaki kaum muslimin pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Padahal kecanggihan teknologi perang kaum muslimin saat itu belum bisa disebut canggih. Siapa yang bisa menduga kalau Shalahuddin Al-Ayubi mampu mengalahkan pasukan Salib yang luar biasa kuatnya. Padahal kaum muslimin saat itu dalam keadaan lemah, kualitas hidup mereka merosot diseluruh bidang kehidupan. Siapa yang bisa menyangka kalau seorang pemuda bisa mewujudkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Konstantinopel akan ditaklukan di tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik tentara adalah tentaranya.” (HR. Ahmad)
Padahal ambisi mewujudkan cita-cita ini seakan hampir mustahil, sebab Mu’awiyah bin Abi Sufyan sudah mencoba merintis usaha ini pada masa pemerintahannya. Itu artinya, impian ini terwujud setelah tujuh abad kemudian. Tepatnya pada masa pemerintahan pemuda itu, Muhammad bin Murad atau yang lebih dikenal dengan Muhammad Al-Fatih, salah satu khalifah pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah.
Iman ini pula yang menjadikan rentang usia seorang muslim menjadi berkah. Bukan saja untuk dirinya, tapi untuk masyarakatnya, untuk manusia semasanya, atau melintasi zaman. Sejarah umat Islam membuktikan itu semua. Siapa yang tidak mengira kalau sebuah buku kecil; dibaca, dipelajari, dan di-syarah sampai detik ini. Padahal buku ini ditulis pada delapan abad yang lalu . Inilah berkah kehidupan, buku kecil yang bernama Arba’in An-Nawawi. Seberkah usia sang penulisnya, Imam Abu Zakariya An-Nawawi. Meski usia fisiknya hanya 35 tahun, namun usia karyanya terus bertahan hingga zaman ini.
Iman memang ajaib. Tapi justru iman  itulah pintu utama menuju kemuliaan. Disini seorang muslim mendapat akses menuju keagungan. Sebab dengan iman , ia menggantungkan harapan kepada Pemilik langit, Allah ‘Azza wa Jalla. Begitulah seterusnya, pada awalnya keinginan itu mungkin hanya sebatas impian dan harapan. Tidak lebih dari itu. Apalagi sarana penunjang untuk mencapainya tidak tersedia. Akan tetapi, ketika keinginan itu tersentuh oleh iman, jadilah ia seperti gelombang dahsyat yang menyapu seluruh penghalang, yang meluluhlantakan semua tembok perintang. Itulah kerja iman, menjadikan keinginan yang biasa-biasa saja menjadi luarbiasa. Menggerakkan ombak yang tenang menjadi tsunami yang dahsyat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa pemilik iman, “Mereka meraih sesuatu dalam waktu singkat berupa ilmu dan amal melimpah yang tidak diperoleh orang selain mereka dalam hitungan abad dan generasi.”

Sunday, February 1, 2015

Ulama Besar

Imam An-Nawawi adalah seorang ulama yang zuhud, banyak beramal soleh, tegas dalam membela kebenaran, serta begitu takut dan cinta pada Allah dan rasul-Nya.

Beliau menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu dan mengajarkannya. Ia rela dengan makanan sederhana berupa roti dan buah at-tin.

Namanya adalah Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Al-Hizam Al-Haurani Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Panggilannya Abu Zakaria. Dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 Hijriah.

Perkembangannya

Pada usia tamyiz (kurang lebih delapan tahun), Imam An-Nawawi telah menghabiskan waktunya untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Kesenangannya pada Al-Qur’an, telah mengalahkan nalurinya sebagai anak-anak untuk bermain bersama teman-temannya. Pada suatu hari, anak-anak kecil sebayanya memaksanya untuk bermain. Imam An-Nawawi berusaha lari dari ajakan teman-temannya itu.

Baca selengkapnya 

Tuesday, January 20, 2015

Tenun Ayat Kursi

Kain tenun dihargai begitu mahal karena dibuat dengan metode tradisional, sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikannya.

Kain Tenun Tapis, kain khas masyarakat Lampung, dikenal sebagai kerajinan dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Perlu diketahui bahwa untuk menyelesaikan motif ayat kursi dengan metode sulam yang sederhana, ukuran 100 x 60 cm, setidaknya butuh waktu untuk menyelesaikannya sekitar 30 hari.

Kaligrafi ayat kursi merupakan sebuah karya best seller yang banyak diminati masyarakat.

Kami hadirkan kain tapis kaligrafi ayat kursi, buah karya terbaik dari kerajinan masyarakat Lampung. Khusus kain tenun untuk dibingkai sebagai hiasan dinding.

Ukuran 100 cm x 60 cm. Hubungi 085741887228 untuk pemesanan grosir atau satuan.

Ayat Kursi Tenun Bordir
- Motif dibordir, tanpa sulam
- Harga Rp 350.000






Ayat Kursi Tenun Sulam
- Motif disulam, bukan bordiran
- Harga Rp 500.000,-


Ayat Kursi Tenun Full Benang Emas
- Motif disulam, bukan bordiran
- 90% kain dihias motif benang emas
- Harga Rp 700.000,-